Fadhilah Memberi Makan

Al-Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc hafidzahullah

Memberi Makan merupakan sebuah adab yang sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin di hari ini. Padahal di zaman ini banyak diantara kaum muslimin yang membutuhkan makan.

Memberi makan –selain memiliki pahala besar-, ia juga merupakan sebab kedekatan dan eratnya hubungan seorang muslimin dengan tetangga dan saudara serta kerabat-kerabatnya.
Memberi makan kepada manusia (apalagi kepada fakir-miskin) merupakan tanda pedulinya seseorang kepada sesama manusia dan tingginya solidaritas. Tak heran jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggelarinya sebagai “manusia terbaik”.
Silakan dengarkan kisah berikut ini. Kisah yang menunjukkan keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dari Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu anhu- bahwa ia berkata kepada Shuhaib,
إِنَّكَ لَرَجُلٌ لَوْلاَ خِصَالٌ ثَلاَثَةٌ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ ، وَانْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ ، وَفِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ . قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، أَمَّا قَوْلُكَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي أَبَا يَحْيَى ، وَأَمَّا قَوْلُكُ : انْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ فَإِنِّي رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ اسْتُبِيتُ مِنَ الْمَوْصِلِ بَعْدَ أَنْ كُنْتُ غُلاَمًا قَدْ عَرَفْتُ أَهْلِي وَنَسَبِي ، وَأَمَّا قَوْلُكَ : فِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.
“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang lelaki (yang hebat), andaikan bukan karena tiga perkara”. Shuhaib bertanya, “Apa tiga hal itu?” Umar berkata, “Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak. Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi dan pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”.
Shuhaib berkata, “Wahai Amirul mukminin; adapun ucapanmu, ” Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak”, maka sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah memberikan kun-yah bagiku dengan “Abu Yahya” (Bapaknya Yahya). Adapun ucapanmu, ” Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi”, maka sesungguhnya aku berasal dari suku An-Namir bin Qosith. Aku pernah di tawan dari negeri Maushil setelah aku menjadi remaja yang telah mengenal keluarga dan nasabku. Adapun ucapanmu, “…pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”, maka sungguh aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.
“Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi makan”. [HR. Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thobaqot (3/227) Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 7739) Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (7310), dan lainnya. Hadits ini dinilai hasan-shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam dalam Shohih At-Targhib (no. 948)]

Ibrah dan Renungan dari Hadits ini
Di dalam hadits ini terdapat beberapa faedah yang bisa menjadi ibrah dan bahan renungan bagi seorang mukmin yang ingin menambah kualitas imannya[1]. 
Diantaranya:

1.      Disyariatkannya seorang muslim menggunakan kun-yah (nama sapaan), seperti Abu Yahya (Bapaknya Yahya), Abu Muhammad (Bapaknya Muhammad), dan Ummu ‘Aisyah (Ibunya ‘Aisyah). Inilah yang disebut dengan kun-yah. Inilah yang disyariatkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi para sahabat. Tak heran bila sema sahabat memiliki kun-yah (nama sapaan), sebagaimana anda bisa lihat contohnya hadits-hadits dalam Riyadhush Sholihin. Pada setiap hadits-hadits itu dimulai dengan kun-yah para sahabat yang meriwayatkannya.

2.     Di dalam hadits ini terdapat keutamaan memberi makan. Ia merupakan kebiasaan yang indah yang menjadi ciri khas orang-orang Arab atas selain mereka dari kalangan umat-umat yang ada. Kemudian Islam pun datang untuk memperkuat hal itu dengan sekuat-kuatnya sebagaimana dalam hadits yang mulia ini.

Sementara itu orang-orang Eropa tidaklah mengenal kebiasaan itu dan tidaklah merasakan manisnya, kecuali orang yang memeluk Islam dari kalangan mereka, seperti orang-orang Albania dan selainnya.

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya diantara perkara yang disesalkan bahwa kaum kita mulai terpengaruh dengan bangsa Eropa dalam metode hidup mereka, baik yang cocok dengan Islam, maupun yang menyelisihinya. Kemudian mulailah mereka (kaum muslimin) tidak memperhatikan perjamuan bagi para tamu dan tidak pula memberikan pikiran bagi hal tersebut kecuali dalam acara-acara resmi. Namun bukan itu yang kita maksudkan. Bahkan bila seorang teman muslim datang kepada kita, maka wajib bagi kita untuk membukakan baginya pintu-pintu rumah kita dan menawarkan kepadanya perjamuan. Itulah haknya atas kita selama 3 hari sebagaimana yang telah datang dalam hadits-hadits yang shahih”. [Lihat Ash-Shahihah (1/111)]

3.     Kualitas iman seseorang akan tampak pada amal-amal shalih yang ia lakukan dalam kehidupan sehari-harinya. Sebab amal-amal shalih lahir dari kekuatan iman seseorang.

4.     Seseorang dilarang keras menisbahkan diri kepada suatu suku, padahal ia bukan termasuk dari kalangan mereka.

5.     Perbudakan tidaklah membuat seseorang menjadi hina bila ia menghiasi dirinya dengan amal-amal ketaatan, seperti halnya sahabat Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu anhu- .
[1] Sebagian faedah ini kami nukilkan dari As-Silsilah Ash-Shohihah (1/1/110-111) karya Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah-.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/keutamaan-memberi-makan.html#

Keharaman Perbuatan Zhalim, Khianat, dan Melanggar Janji


Al-Ustadz  Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafidzahullah



Nilai-nilai Islam yang agung nan suci sangat tidak sejalan dengan perbuatan zholim, khianat dan melanggar janji. Karena kezholiman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan khianat adalah tidak memenuhi amanah, dan melanggar janji adalah akhlak yang tercela menurut kesepakatan orang-orang yang berakal.
Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Yang menciptakan seluruh makhluk, telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Nya. Sebagaimana diterangkan dalam haditsQudsi, Allah berfirman,
يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظَّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوْا
“Wahai segenap hambaku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Ku dan Aku telah menjadikan hal tersebut sebagai perkara yang haram antara sesama kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.” [1]
Dan Allah Tabâraka wa Ta’âlâ mengingatkan,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menzholimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshulit : 46)
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zholim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zholim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yûnus : 44)
“Sesungguhnya Allah tidak menzholimi seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisâ` : 40)
“Allah tidaklah menzholimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzholimi diri mereka sendiri.” (QS. Âli Imrân : 117)
Dan dalam berbagai nash, diterangkan bahwa perbuatan zholim tidak pernah membawa kebaikan bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat.
Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam mengingatkan,
“Sesungguhnya Allah memberi tangguhan kepada orang yang zholim, hingga ketika Allah mengazabnya, ia tidak akan melepaskannya lagi. Kemudian beliau membaca firman-Nya “Dan begitulah azab Rabb-mu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”. ” [2]
Dan beliau juga mengingatkan,
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat.” [3]
Bahkan Allah Jalla wa ‘Azza menyatakan dalam berbagai ayat akan bahaya perbuatan zholim,
“Orang-orang yang berbuat zholim tidak ada seorang penolongpun baginya.” (QS. Al-Baqarah : 270, Âli Imrân : 192, Al-Mâ`idah : 72)
“Sesungguhnya orang-orang yang zholim itu tidak akan mendapat keberuntungan.”(QS. Al-An’âm : 6, 135, Yûsuf : 23, Al-Qashash : 37)
“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Baqarah : 258, Âli Imrân : 86, At-Taubah : 19, 109, Ash-Shoff : 7, Al-Jumu’ah : 5)
“Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. Ghôfir : 18)
Dan betapa meruginya orang yang berbuat kezholiman pada hari kiamat,
“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada (Allah) Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezholiman.” (QS. Thôhâ : 111)
Tiada penyesalan yang bermanfaat dan tiada harta yang bisa menebus siksaan bagi pelaku kezholiman,
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`ân ketika Al-Qur`ân itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqân : 27-29)
“Dan sekiranya orang-orang yang zholim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar : 47)
Dan perlu diketahui oleh seluruh kaum muslimin bahwa seluruh bentuk kezholiman, baik itu berupa kesyirikan, dosa dan maksiat yang merupakan kezholiman pada diri sendiri, atau dosa yang kaitannya antara sesama makhluk, seluruh bentuk kezholiman tersebut adalah termasuk hal yang mengancam sebuah bangsa maupun negara. Allah telah mengingatkan hal tersebut dalam beberapa ayat,
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zholim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. Al-Kahfi : 59)
“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zholim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).” (QS. Al-Anbiyâ` : 11)
“Dan tidak adalah Rabbmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezholiman.” (QS. Al-Qashash : 59)
“Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan serta istana yang tinggi.” (QS. Al-Hajj : 45)
Dan haram hukumnya untuk membela dan melindungi orang-orang yang berbuat kezholiman,
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim sehingga menyebabkan kalian disentuh api neraka.” (QS. Hûd : 113)
Adapun perbuatan khianat, ia adalah hal yang tercela dalam seluruh syari’at. Syari’at kita telah menjelaskan haram berbuat khianat dalam segala perkara, baik itu khianat terhadap sesama muslim ataupun khianat terhadap orang kafir yang terkait mu’amalat dengannya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.” (QS. Al-Anfâl : 27)
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfâl : 58)
“Dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yûsuf : 52)
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj : 38)
Dan Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Tanda kemunafikan ada tiga; apabila bercerita ia dusta, apabila berjanji ia tidak menepatinya dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” [4]
Dan Allah melarang untuk membela dan melindungi orang-orang yang berbuat khianat,
“Dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat.” (QS. An-Nisâ` : 105)
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. An-Nisâ` : 107)
Dan akhlak mulia yang diperintah dalam syari’at Islam adalah menepati janji.
“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Âli Imrân : 76)
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”(QS. Al-Isrô : 34)
“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mukminûn : 8, Al-Ma’ârij : 3)
Dan perbuatan melanggar janji (ghodar) adalah dosa yang sangat besar dalam syari’at. Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Empat perkara, siapa yang terdapat padanya empat perkara ini, maka ia adalah munafik murni, dan siapa yang terdapat padanya salah satu darinya, maka padanya ada satu ciri kemunafikan; apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila bercerita ia berdusta, apabila membuat janji ia ghodar dan apabila berdebat ia curang.” [5]
Dan dalam hadits lain,
يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ القِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنٍ
Diangkat bagi setiap orang yang ghodar bendera pada hari kiamat, dikatakan : “Inilah ghodarnya si fulan”. [6]
Demikianlah para pembaca sekalian, kami tekankan prinsip haramnya perbuatan zholim, khianat dan melanggar janji ini, karena prinsip ini termasuk hal yang banyak dilalaikan oleh sebagian orang di masa ini. Hendaknya prinsip Islam yang agung ini senantiasa terpatri dalam sanubari setiap muslim, dan dalam pembahasan-pembahasan yang akan datang, akan nampak jelas besarnya pengaruh prinsip Islam yang mulia ini terhadap hukum-hukum syari’at dalam masalah jihad, dalam masalah berinteraksi terhadap sesama manusia -muslim maupun kafir- dan berbagai masalah lainnya.Wallâhu Ta’âlâ A’lam.

[1] Hadits riwayat Muslim no. 2577 dari Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu.
[2] Hadits Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry no. 4686, Muslim no. 2583, At-Tirmidzy no. 3120 dan Ibnu Mâjah no. 4018.
[3] Hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma riwayat Al-Bukhâry no. 2447, Muslim no. 2579 dan At-Tirmidzy no. 2035. Dan hadits Jâbir radhiyallâhu ‘anhuma riwayat Muslim no. 2578. Dan Al-Kattaniy menggolongkannya sebagai hadits mutawâtir. Baca Nazhmul Mutanâtsir Min Al-Ahâdîts Al-Mutawâtir hal. 177
[4] Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu riwayat Al-Bukhâry no. 33, 2682, 2749, 6095, Muslim no 59 dan At-Tirmidzy no. 2636.
[5] Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Âsh radhiyallâhu ‘anhuma riwayat Al-Bukhâry no. 34, 2459, 3178 dan Muslim no. 2635.
[6] Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry no. 3188, 6177, 6178, 6966, 7111 dan Muslim no. 1735, At-Tirmidzy no. 1585 dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, dan juga dikeluarkan oleh Al-Bukhâry no. 3186 dan Muslim no. 1736 dari ‘Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, serta dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhum riwayat Al-Bukhâry no. 3187 dan Muslim no. 1737 dan Ibnu Majah no. 2872. Dan semakna dengannya hadits Abu Sa’id radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim no. 1738, At-Tirmidzy no. 2196 (dalam hadits yang panjang) dan Ibnu Majah no. 2873.
Sumber: http://dzulqarnain.net/keharaman-perbuatan-zhalim-khianat-dan-melanggar-janji.html

Gara-gara Lalat


Al-Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc hafidzahullah
Siapa yang tidak kenal dengan lalat? Binatang mungil yang selalu hinggap pada tempat-tempat yang kotor dan menjijikkan, terbang kesana-kemari menebarkan penyakit. Sehingga kita merasa takut dan jijik, jika lalat hinggap pada makanan kita. Namun, tahukah anda, ternyata gara-gara lalat dapat menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan yang abadi. Sebaliknya, gara-gara lalat menyebabkan seseorang dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala dan siksanya tiada berakhir. Mungkin ada diantara Pembaca yang budiman merasa takjub. Tapi, ketakjuban seperti ini lumrah, sebab dahulu para sahabat juga takjub dan heran ketika mendengarkan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menceritakan hal itu.


Dari sahabat Thariq bin Shihab bahwasanya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
دَخَلَ الجَنَّةَ رَجُلٌ فِيْ ذُبَابٍ وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِيْ ذُبَابٍ، قَالُوْا: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمُ لَايَجُوْزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبُ لَهُ شَيْئًا، فَقَالُوْا لِأَحَدِهِمَا: قَرِّبْ، قَالَ: لَيْسَ عِنْدِ شَيْءٌ أُقَرِّبُ، قَالُوْا لَهُ: قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا، فََقَرَّبَ ذُبَابًا،فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوْا لِلأَخَرِ: قَرِّبْ، قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُوْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَضَرَبُوْا عُنُقَهُ فَدَخَلَ النَّارَ
"Ada seseorang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada seseorang yang masuk neraka gara-gara lalat ". Para sahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala. Mereka tidak memperbolehkan seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban. Maka berkatalah mereka (kaum itu) kepada salah seorang dari laki-laki tersebut, "Berkurbanlah!" Dia menjawab, "Aku tidak memiliki sesuatu pun untuk dikorbankan". Mereka berkata lagi kepadanya, "Berkorbanlah, walaupun hanya seekor lalat. Maka laki-laki itu berkorban dengan seekor lalat. Lalu mereka pun membiarkannya meneruskan perjalanan. Maka ia pun masuk neraka. Kemudian kaum itu berkata lagi kepada seorang yang lain, "Berkurbanlah!!" Lalu laki-laki itu menjawab, "Aku sama sekali tidak pernah menjadikan kurbanku kepada seorang pun, selain Allah -Azza wa Jalla- . Maka kaum itu memenggal lehernya dan masuklah ia ke dalam surga". [HR. Ahmad dalam Az-Zuhud (15), dan Abu Nu'aim dalamAl-Hilyah (1/203)Hadits ini di-shahih-kan oleh Abu Ya'la Muhammad Aiman As-Salafy dalamBughyah Al-Mustafid (hal. 150)].
SyaikhMuhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, "Orang ini berkurban dengan sesuatu yang hina (tidak berharga) dan tidak bisa dimakan, akan tetapi ketika ia meniatkan hal itu dapat mendekatkan dirinya kepada berhala, maka jadilah ia seorang yang musyrik. Lalu iapun masuk ke dalam neraka". [Lihat Al-Qaul Al-Mufid Syarh Kitab At-Tauhid (1/142), cet. Darul Aqidah)]
Syaikh Abdur Rahman bin HasanAlusy Syaikh-rahimahullah- berkata, "Jika begini kondisi orang yang mendekatkan diri kepada berhala dengan seekor lalat maka bagaimana lagi keadaannya orang-orang yang menggemukkan untanya, sapinya, dan kambingnya untuk mendekatkan diri mereka dengan menyembelihnya dan berkurban kepada sesuatu yang disembah selain Allah berupa mayat, orang yang gaib, thogut, tempat-tempat keramat, pohon, batu, atau selain dari itu. Orang musyrikin di masa sekarang mereka menganggap yang demikian itu lebih afdhol dari pada menyembelih di hari kurban idul adha yang telah disyariatkan. Terkadang sebagian diantara mereka mencukupkan diri dengan berkurban kepada selain Allah saja. Karena besarnya rasa takut, pengagungan dan harapan mereka kepada selain Allah. Sungguh musibah ini telah merata. [Lihat Qurrah 'Uyun Al-Muwahhidin, (hal 71)]
Jika kita mencermati ucapan Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alusy Syaikh, dan membandingkannya dengan realita dan fakta yang terjadi di sekitar kita, maka kita akan melihat pemandangan yang sangat ironis dan memilukan. Apa yang beliau katakan, jelas terjadi di depan mata kita, "bagaikan matahari di siang bolong". Liriklah orang yang ber-KTP Islam yang selalu melakukan ritual-ritual berupa pesta laut di pantai Laut Selatan. Mereka menyembelih hewan kurban kepada Nyi Roro Kidul sebagai bentuk kesyukuran atau tolak bala. Ironinya, justru yang menyerukan dan membela hal ini adalah orang-orang yang disebut "tokoh-tokoh agama" dan "pemuka-pemuka adat" yang pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang tidak paham tentang agama Allah. Seandainya mereka paham, niscaya mereka tidak akan menyeruh manusia ke neraka Jahannam. Seandainya mereka paham, tentunya mereka tidak akan menyelisihi perintah Allah yang mereka membacanya setiap hari, bahkan di setiap shalatnya.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakanlah sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabbnya alam semesta"
Mereka telah memalingkan ibadah yang agung ini (yaitu menyembelih) kepada selain Allah. Padahal menyembelih hanya boleh dipersembahkan oleh seorang muslim hanya kepada Allah. Menyembelih termasuk ibadah yang paling agung, karena sebesar-besar ibadah harta adalah berkurban (menyembelih hewan ternak).
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy -rahimahullah- berkata, "Ibadah badaniyah (dengan anggota badan) yang paling utamua ialah shalat sedangkan ibadah dengan harta yang paling utama adalah berkurban. Perkara yang terkumpul pada seorang hamba dalam shalat tidaklah terkumpul pada ibadah selainnya sebagaimana diketahui oleh pemilik hati yang hidup. Perkara yang terkumpul dalam ibadah kurban apabila dia menggabungkan antara iman dan keikhlasan dari kekuatan keyakinan dan persangkaan yang baik akan menghasilkan perekara yang mengagumkan. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- banyak melakukan shalat dan berkurban". [Lihat Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid(hal.120), cet. Dar Ad-Dakwah Al-Islamiyyah)
Seorang yang menyembelih kepada selain Allah –Ta'ala- merupakan orang yang musyrik, telah mengangkat makhluk yang disembelihkan tersebut sebagai sembahan selain Allah. Orang ini akan dilaknat oleh Allah –Ta'ala- lewat lisan Rasul-Nya.
Ali bin Tholib -radhiyallahu 'anhu- berkata,
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، لَعَنَ اللهُ مَْنْ لَعَنَ وَالَدَيْهِ، لَعَنَ اللهُ مَنْ اَوَى مُحْدِثًا، لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ
"Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- telah mengatakan kepadaku empat kalimat: Allah melaknat orang yang menyembelih kepada selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknak orang yang melindungi mubtadi' (pembuat bid'ah/ajaran baru dalam agama), Allah melaknat orang yang mengubah tanda batas tanah." [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1178) dan An Nasa'iy dalam As-Sunan(7/232)]
Berkurban atau menyembelih merupakan ibadah yang hanya diarahkan kepada Allah, karena telah dimaklumi, Allah -Ta’ala- menciptakan kita untuk suatu tugas yang agung, yaitu hanya beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
”Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku" (QS.Adz-Dzariyaat :56)
Penafsir Ulung Al-Qur’an, Abdullah Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Beribadah kepada-Ku, artinya: men-tauhid- (mengesa)kan-Ku".
Syaikh Muhammad bin Sulaiman At Tamimiy -rahimahullah- berkata dalam Al-Qowa’id Al-Arba’(hal. 14), "Jika kamu sudah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah (wudhu’). Jika syirik masuk ke dalam ibadah, maka rusaklah (ibadah tersebut-pent) sebagaimana hadats, apabila masuk ke dalam thaharah (wudhu’)".
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Alu Fauzan-hafizhahullah- berkata, "Engkau termasuk manusia dalam ayat ini, dan engkau mengetahui bahwa Allah tidak menciptakanmu dengan sia-sia atau untuk makan dan minum saja serta hidup bebas dan bergembira dalam dunia ini, tidaklah demikian, Allah menciptakanmu untuk beribadah hanya kepada-Nya." [Lihat Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (hal. 14-15)]
Jadi, keberadaan kita di muka bumi ini adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya dan tidak kepada selainnya. Namun perlu diingat, para hamba beribadah kepada Allah, bukan berarti Allah butuh kepada hamba-Nya, justru mereka butuh kepada-Nya, karena Allah Maha Kaya, tidak butuh kepada alam semesta ini.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
”Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka, dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi aku makan" (QS. Adz-Dzariyaat: 56-57)
Syaikh Al-Fauzan -hafizhahullah- berkata dalam Syarh Al-Qawaid Al-Arba’ hal. 15), "Allah Azza wa Jalla dialah yang memberi makan dan tidak diberi makan. Tidak butuh kepada makanan dan ketidakbutuhan Allah sesuai dengan Dzat-Nya. Allah tidak butuh kepada ibadahmu seandainya kamu kufur maka tidak akan berkurang sedikitpun kekuasaan Allah subhanah wa ta’ala. Akan tetapi kaulah yang butuh kepada-Nya yaitu butuh beribadah kepada-Nya. Karena diantara rahmat-Nya bahwasanya Allah memerintahkannmu untuk beribadah kepada-Nya untuk kebaikanmu. Karena apabila kau beribadah kepada-Nya maka sesungguhnya Allah azza wa jalla akan memuliakanmu dengan balasan dan fahala, maka ibadah adalah sebab Allah memberikan kemulian kepadamu di dunia dan di akhirat. Maka siapakah yang mendapatkan faidah dalam ibadah? Yang mendapatkan faidah adalah hamba itu sendiri. Adapun Allah maka sesungguhnya Dia tidak butuh kepada hamba-Nya".
Jadi, jika orang menyembelih kepada selain Allah, berupa malaikat, nabi, wali-wali, roh, jin, pohon, batu dan sebagainya, maka dia telah melakukan kesyirikan, dan pelakunya kafir ‘keluar dari islam’, serta seluruh amalannya akan dihapus. Karena ia telah mempersekutukan Allah dengan makhluk-makhluk tersebut, dan mengangkatnya sebagai tandingan bagi Allah dalam beribadah.
Allah -Ta’ala- berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS. Az-Zumar: 65)
Oleh karena itu, murnikanlah ibadahmu hanya untuk Allah, janganlah engkau campur adukkan dengan noda-noda kesyirikan sehingga merusak segalanya, laksana nila setitik, susu sebelanga rusak. Namun jika kalian bersihkan dari noda syirik, niscaya kalian akan mendapatkan keamanan dari siksa Allah di dunia, dan akhirat, serta mendapatkan petunjuk, tidak sesat !!
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk .
(QS. Al An’am: 82)
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Fushsilat: 30-32)
Inilah jaminan Allah di dunia dan di akhirat bagi hamba-hamba yang men-tauhid-kan Allah. Mereka ridho Allah sebagai Rabbnya, Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagai nabinya dan islam sebagain agamanya.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 19 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Perkataan Asy Syaukani Dalam Nailul Authar Tentang Kesyirikan


Al-Ustadz Abu Utsman Kharisaman hafidzahullah
Hadits :
عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
Dari Abul Hayyaj al-Asady beliau berkata: Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku: Engkau aku utus (dengan tugas) sebagaimana Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam mengutusku, yaitu: Janganlah engkau tinggalkan  patung/gambar makhluk bernyawa kecuali engkau  hilangkan, dan kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan (H.R al-Jamaah, kecuali al-Bukhari dan Ibnu Majah)

Al-Imam asy-Syaukany rahimahullah menyatakan:
ومن رفع القبور الداخل تحت الحديث دخولا أوليا القبب والمشاهد المعمورة على القبور وأيضا هو من اتخاذ القبور مساجد وقد لعن النبي صلى الله عليه وآله وسلم فاعل ذلك كما سيأتي وكم قد سرى عن تشييد أبنية القبور وتحسينها من مفاسد يبكي لها الإسلام منها اعتقاد الجهلة لها كاعتقاد الكفار للأصنام وعظم ذلك فظنوا أنها قادرة على جلب النفع ودفع الضرر فجعلوها مقصدا لطلب قضاء الحوائج وملجأ لنجاح المطالب وسألوا منها ما يسأله العباد من ربهم وشدوا إليها الرحال وتمسحوا بها واستغاثوا وبالجملة إنهم لم يدعوا شيئا مما كانت الجاهلية تفعله بالأصنام إلا فعلوه فإنا لله وإنا إليه راجعون ومع هذا المنكر الشنيع والكفر الفظيع لا نجد من يغضب لله ويغار حمية للدين الحنيف لا عالما ولا متعلما ولا أميرا ولا وزيرا ولا ملكا وقد توارد إلينا من الأخبار ما لا يشك معه أن كثيرا من هؤلاء المقبوريين أو أكثرهم إذا توجهت عليه يمين من جهة خصمه حلف بالله فاجرا فإذا قيل له بعد ذلك احلف بشيخك ومعتقدك الولي الفلاني تلعثم وتلكأ وأبى واعترف بالحق وهذا من أبين الأدلة الدالة على أن شركهم قد بلغ فوق شرك من قال إنه تعالى ثاني اثنين أو ثالث ثلاثة فيا علماء الدين ويا ملوك المسلمين أي رزء للإسلام أشد من الكفر وأي بلاء لهذا الدين أضر عليه من عبادة غير الله وأي مصيبة يصاب بها المسلمون تعدل هذه المصيبة وأي منكر يجب إنكاره إن لم يكن هذا الشرك البين واجبا
Di antara perbuatan yang pertama kali masuk (larangannya) dalam hadits adalah membangun kubah-kubah dan cungkup-cungkup di atas kubur. Lagipula yang demikian itu termasuk menjadikan kubur sebagai masjid, padahal Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam telah mengutuk orang yang melakukan itu.
Banyak sudah kerusakan yang ditangisi Islam (kaum muslimin,pent) akibat dari pendirian bangunan-bangunan di atas kubur dan tindakan memperindahnya. Di antara kerusakan-kerusakan itu adalah kepercayaan orang-orang bodoh terhadap kubur seperti kepercayaan orang-orang kafir terhadap berhala. Dan semakin menjadi-jadi sehingga mereka menganggap bahwa kubur tersebut mampu mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan. Lalu mereka menjadikan kubur-kubur itu sebagai tempat tujuan untuk mencari hal-hal yang dapat menutupi kebutuhan mereka dan untuk keberhasilan maksud-maksud mereka. Mereka meminta kepada kubur-kubur itu apa yang diminta oleh hamba kepada Tuhannya.
Mereka bersusah payah melakukan perjalanan (syaddur rihaal) ke kubur-kubur tersebut lalu mengusap-usapnya serta meminta tolong agar terhindar dari bahaya. Walhasil, mereka tidak meninggalkan satupun dari apa yang dilakukan orang-orang Jahiliyyah terhadap berhala, melainkan pasti mereka kerjakan juga. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un.
Tetapi meski ada kemungkaran yang keji dan kekufuran yang nyata ini, kami tidak menemukan seorangpun yang marah karena Allah dan tersinggung demi menjaga agama Allah yang lurus. Baik ia Ulama’, pelajar, gubernur, Menteri, ataupun raja. Padahal telah sampai kepada kita berita-berita yang tidak diragukan lagi kebenarannya bahwa para penyembah kubur itu atau sebagian besarnya, apabila diminta bersumpah atas nama Allah oleh pihak lawannya, mereka akan bersumpah palsu atas nama-Nya. Tetapi kalau sesudah itu mereka diminta bersumpah atas nama syekhnya atau wali fulan yang diyakininya, mereka menjadi bimbang dan menolak bersumpah lalu mengakui kesalahannya.
Demikian ini merupakan bukti yang paling jelas yang menunjukkan bahwa kesyirikan mereka telah melampaui kesyirikan orang yang mengatakan Allah itu oknum kedua atau ketiga dari tiga tuhan (Nashrani, pent).
Hai Ulama Islam dan para penguasa muslim, bencana apakah yang lebih berbahaya dari kekufuran?! Cobaan manakah yang lebih menimbulkan mudharat (bahaya/kerugian) terhadap agama daripada penyembahan kepada selain Allah. Musibah macam manakah yang menimpa kaum muslimin yang dapat menyamai musibah ini, dan kemungkaran yang bagaimana yang wajib ditentang jika kesyirikan yang nyata ini tidak wajib diingkari?! (Nailul Authar karya asy-Syaukany bab Tasliimul Qobri wa rosysyihi bil maa’ wa ta’liimihi li yu’rof  juz 4 halaman 131)).
Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ucapan/ penjelasan seorang ‘alim ini adalah:
  1. Perbuatan kesyirikan yang dilakukan dalam pengagungan terhadap kuburan itu sama dengan yang dilakukan kaum musyrikin jahiliyyah terhadap berhalanya.
  2. Bahkan, kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang itu lebih besar dibandingkan kesyirikan trinitas, ketika mereka mau berdusta dalam bersumpah atas nama Allah, namun justru tidak mau berdusta jika bersumpah atas nama syaikh atau wali yang diagungkannya.
  3. Melakukan safar (bersusah payah menempuh perjalanan jauh/ syaddur rihaal) dalam rangka mendatangi kubur orang shalih, mengusap kuburnya dan meminta agar dihindarkan dari bahaya adalah kesyirikan seperti perbuatan kaum musyrikin di masa Jahiliyyah.
  4. Tidak ada musibah yang lebih dahsyat bagi kaum muslimin selain terjadinya kesyirikan dan kekufuran.
  5. Membangun kubah-kubah dan cangkup-cangkup di atas kubur juga termasuk dalam larangan Nabi menjadikan kuburan sebagai masjid.
  6. Para pemimpin, para Ulama’, dan kaum muslimin seluruhnya wajib mengingkari terjadinya perbuatan-perbuatan kesyirikan semacam itu.
Dalam pernyataan tersebut, al-Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukany banyak menyoroti perbuatan kesyirikan yang banyak terjadi di daerahnya pada masa beliau hidup. Beliau memiliki tulisan yang bagus dalam masalah aqidah berjudul: ad-Durrun Nadhiid fii ikhlaashi kalimatit tauhiid.
Sebagian orang menganggap bahwa pihak yang mengingkari perbuatan-perbuatan kesyirikan itu sebagai wahabi1(pengikut Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab). Al-Imam asy-Syaukany hidup satu masa dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Asy-Syaukany (masa hidup: 1173-1250H) berada di Yaman, sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (masa hidup:1115-1206H ) berada di Najd (sekarang Saudi Arabia). Mereka juga hidup satu jaman dengan al-Imam (Muhammad bin Ismail al-Amiir) as-Shon’aany (masa hidup: 1099-1182 H) penulis kitab Subulus Salam syarh Bulughul Maram2.
Al-Imam asy-Syaukaany juga pernah menyatakan dalam kitabnya al-badrut Thooli’ bi mahaasini min ba’dil qornis- saabi’ (2/7) :
Pada tahun 1215 Hijriyah sampai kepadaku risalah dua jilid dari penduduk Najd yang dikirim oleh Maulana al-Imam hafidzhahullah. Salah satunya risalah-risalah dari Muhammad bin Abdil Wahhab seluruhnya berupa petunjuk tentang memurnikan tauhid dan menjauhkan dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang yang berkeyakinan terhadap kubur. Itu adalah risalah-risalah yang baik, banyak mengandung dalil dari al-Quran dan as-Sunnah…
Mungkin saja ada yang meragukan bait-bait syair pujian al-Imam asy-Syaukany saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia. Namun yang jelas, aqidah keduanya adalah sama dan termaktub dengan tegas dalam kitab Nailul Authar yang mudah dijumpai di toko-toko buku dan perpustakaan Islam. Kitab Nailul Authar karya asy-Syaukaany dalam pembahasan fiqh dijadikan rujukan oleh banyak kaum muslimin hingga saat ini. Termasuk saudara-saudara kita yang belajar dan mengajar di pondok-pondok pesantren tradisional yang tersebar di pelosok-pelosok Indonesia.
(Abu Utsman Kharisman)
Catatan Kaki :
1)    Orang sering tidak paham dengan tuduhan wahabi. Padahal, dari sisi penisbatannya saja sudah salah. Selain itu, seorang ahlussunnah tidaklah mengkultuskan seorang ulama pun dengan mengesampingkan Ulama yang lain. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah salah seorang Ulama’ yang berjasa dalam dakwahnya, setelah taufiq dari Allah. Namun, para Ulama’ setelahnya yang mensyarah kitab-kitab beliau tetap obyektif dalam menilai. Jika didapati ada hadits yang lemah, mereka jelaskan. Sebagai bentuk bukti bahwa kebenaran (al-haq) lebih dicintai ahlussunnah dibandingkan kecintaannya kepada guru atau orang yang berjasa padanya. Bagi Ahlussunnah, tidak ada yang bisa diikuti secara mutlak ucapannya selain Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Beliaulah Imam yang paling utama.
2)    Dari sisi urutan usia : al-Imam as-Shon-‘aany, kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian al-Imam asy-Syaukaany. Al-Imam as-Shon-‘aany juga memiliki tulisan yang bagus dalam hal aqidah yang berjudul Tath-hiirul I’tiqaad ‘an Adroonil Ilhaad.
Sumber: http://www.salafy.or.id/perkataan-asy-syaukani-dalam-nailul-authar-tentang-kesyirikan/

Istighotsah Syirik


Al-Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc hafidzahullah


Kesyirikan demi kesyirikan telah melanda umat Islam di negeri kita, karena minimnya ilmu mereka tentang tauhid, dan sibuknya mereka dengan urusan dunia yang melalaikan mereka dari mengkaji agama mereka.
Sebagian kaum muslimin ada yang terjatuh dalam kubang kesyirikan dari pintu istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada nabi, wali, dan lainnya. Mereka menyangka bahwa ber-istighotsah kepada makhluk adalah perkara yang disyari’atkan.
Ini jelas salah dan batil!! Kesalahan dan kebatilan seperti ini dilandasi oleh kesalahpahaman tentang makna istighotsah, sehingga mereka rancu dalam memahami antara istighotsah dan tawassul.
Istighotsah, maknanya adalah meminta al-ghouts (pertolongan) di saat susah atau menghadapi musibah. Sedang tawassul adalah seorang hamba mencari jalan menuju Allah dengan berdoa kepada Allah sambil menyebutkan nama atau sifat-Nya, menyebut amal sholihnya, atau doa orang lain. Jadi, tawassul adalah ibadah yang tetap kita minta dan hadapkan kepada Allah, bukan kepada wali-wali atau orang sholih.
Dekade belakangan ini, muncul sebuah ritual baru yang disebut dengan “Istighotsah Akbar” ketika negeri ini didera dengan krisis moneter dan sejumlah musibah lainnya. Di sebagian tempat, ada di antara kaum muslimin yang ber-istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani. Jelas ini adalah kebatilan dan kemusyrikan!!
Para pembaca yang budiman, istighotsah adalah salah satu diantara jenis-jenis doa, sedang doa adalah ibadah sebagaimana telah kami jelas dalam edisi-edisi lalu. Jika doa adalah ibadah, maka doa tak boleh dihadapkan dan dipersembahkan kepada selain Allah, sebab itu adalah kesyirikan. Bahkan doa hanya kepada Allah saja!!!
Jadi, meminta pertolongan kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani di kala susah adalah perbuatan kesyirikan yang diharamkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Seseorang jika mendapatkan kesusahan berupa penyakit, kemiskinan, kesempitan hidup, stress, trauma, ketakutan, paceklik, badai, musibah, kegagalan, dan lainnya, maka hendaknya ia berdoa kepada Allah yang menghilangkan segala kesusahan. Jangan berdoa kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan-kesusahan itu. Sebab makhluk lain juga sama lemahnya dan butuhnya kepada Allah. Karenanya, tak layak berdoa dan memohon pertolongan kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan dan musibah yang tak mampu ditangani oleh makhluk!!
Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus : 106-107)
Ahli Tafsir Negeri YamanAl-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini,“Maknanya, bahwa Allah -Subhanahu-, Dia-lah Yang Memberi mudhorot dan manfaat. Jika Dia menurunkan pada hamba-Nya suatu mudhorot (musibah), maka tak ada seorang pun yang mampu menghilangkan (menolak) musibah, siapapun orangnya. Bahkan Dia (Allah)-lah yang khusus mampu menghilangkannya, sebagaimana halnya Dia yang secara khusus menurunkannya”. [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai Ar-Riwayah wa Ad-Diroyah min At-Tafsir (3/412)]
Di dalam ayat itu Allah menerangkan bahwa seorang yang berdoa memohon pertolongan kepada makhluk, baik di kala susah atau senang adalah orang yang zalim. Orang yang memalingkan doanya kepada makhluk, berarti ia telah menempatkan doanya bukan pada tempatnya, yakni bukan pada Allah. Inilah yang disebut “zhalim”, sebab kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Nah, jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saja berdoa kepada selain Allah bisa menjadi zhalim dan musyrik (walaupun itu tak mungkin terjadi), maka kita yang bukan nabi dan bukan pula rasul Allah lebih pantas takut dan waspada terhadap kesyirikan. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 182)]
Ini merupakan peringatan keras buat kiyai-kiyai dan ustadz yang biasa memimpin massa dalam ber-istighotsah kepada selain Allah -Azza wa Jalla- saat musibah dan kesempitan melanda umat. Makhluk yang kita tempati bermohon (semisal, Syaikh Abdul Qodir Jailani, Wali Songo, Nyi Roro Kidul, dan lainnya), maka mereka semua adalah makhluk yang lemah, tak mampu memberi rejeki, dan pertolongan. Jika kalian menyangka bahwa mereka mampu menolong kalian, memenuhi hajat kalian dan menolak bala dari kalian, maka ini adalah sangkaan batil dan kedustaan di hadapan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah, itu adalah berhala, dan kalian telah membuat kedustaan. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah, itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan”. (QS. Al-Ankabuut : 17)
Mufassir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Al-Imad Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Kemudian Allah mengabarkan kepada mereka (kaum musyrikin) bahwa arca-arca mereka yang mereka sembah, dan juga berhala-berhala mereka, semuanya tak mampu memberi mudhorot dan manfaat. Kalian (musyrikin) hanya menciptakan nama-nama bagi mereka (sesembahan itu). Kalian menamai berhala dan arca-arca itu dengan “sesembahan”. Padahal mereka adalah makhluk seperti kalian. Demikianlah penafsiran yang dinukil oleh Al-Aufiy dari Ibnu Abbas. Penafsiran inilah juga yang dinyatakan oleh Mujahid, dan As-Suddi”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/269), tahqiq Sami Salamah]
Jika kita menginginkan rezki berupa kesehatan, kesembuhan, harta, makanan, tempat tinggal, kendaraan dan segala hajat kita, maka bermohonlah kepada Allah -Azza wa Jalla-, Sembahan dan Robb kalian yang mampu mengatur, memelihara, dan memenuhi segala hajat dan kemaslahatan para hamba-Nya. Janganlah meminta rezki kepada Nyi Roro Kidul, Wali Songo, Syaikh Abdul Qodir Jailaniy, Syaikh Yusuf Al-Makassari, tapi mintalah kepada Allah sebagai bentuk kesyukuran kita kepada-Nya!!!
Tak ada makhluk yang paling sesat jalannya dibandingkan orang yang memohon dan berdoa kepada makhluk yang tak memiliki daya dan upaya. Terlebih lagi jika yang diseru adalah mayat yang sudah terkapar dan termakan ulat dalam pusaranya.
Allah –Jalla wa Alaa’- berfirman,
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka”. (QS. Al-Ahqoof : 56)
Syaikh Isma’il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy -rahimahullah- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin sungguh telah bodoh. Sungguh mereka berpaling dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui menuju kepada manusia-manusia yang tak mampu mendengarkan doa mereka. Jika manusia-manusia itu mampu mendengarkan doanya, maka mereka (manusia) itu tak mampu memenuhi doa mereka. Mereka itu tak mampu melakukan apa-apa. Jadi, dari situ tampaklah bahwa orang-orang yang beristighotsah (kepada selain Allah), dan menyangka bahwa diri mereka tak berbuat syirik. Karena mereka (yang ber-istighotsah) memang tak meminta kepada orang-orang mati agar hajatnya dipenuhi, mereka hanya memohon doa dari mereka. Jika mereka ini tak berbuat syirik dari sisi meminta dipenuhinya hajat mereka, maka sungguh mereka berbuat syirik dari sisi doa. Mereka menyangka bahwa manusia yang mereka sembah dapat mendengarkan seruan mereka dari jauh, sebagaimana mereka (sesembahan batil itu) mendengarkan seruan mereka dari dekat”. [Lihat Risalah At-Tauhid (hal. 72)]
Jadi, diantara manusia ada yang menyangka saat ber-istighotsah kepada “wali-wali” bahwa mereka tak meminta hajat kepada “wali-wali”, mereka hanya menjadikannya sebagai perantara. Dalam artian, mereka berdoa kepada “wali-wali” dengan harapan wali itu yang menyampaikan doanya (yang berisi permohonan hajat) kepada Allah.
Inilah kemusyrikan yang ada di zaman jahiliah; yang pernah dilakukan oleh bangsa Arab dan lainnya sebelum Islam datang dan tersebar. Kemusyrikan seperti masih terus berlanjut dan berulang dimana-mana, sampai di Indonesia pun ada dan tersebar!!!
Itulah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya saat mengingkari orang-orang yang mengangkat sesembahan sebagai perantara antara dirinya dengan Allah,
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil wali (sesembahan) selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka (wali-wali), melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS. Az-Zumar : 3)
Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kesyirikan orang-orang jahiliah, “Inilah masalah bersar yang di dalamnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyelisihi mereka. Beliau datang membawa ikhlash (tauhid). Beliau mengabarkan kepada mereka bahwa itulah (yakni, tauhid) agama Allah yang Dia tak menerima dari seorang pun selainnya, dan bahwa barangsiapa yang melakukan kesyirikan yang mereka anggap baik, maka Allah mengharamkan surga baginya, sedang tempatnya adalah neraka” [Lihat Masa'il Al-Jahiliyyah (hal 37)]
Allah adalah satu-satunya sembahan kita. Dia-lah tempat kita meminta segala hajat dan pertolongan; Dia-lah yang menghilangkan segala marabahaya, kesusahan, serta Dia yang memberikan nikmat kepada kita, bukan makhluk yang memberi?! Dia yang menjadikan kita sebagai kholifah yang mengurusi dan mengarahkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Allah -Ta’ala- berfirman,
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (QS. An-Naml : 62)
Tak ada yang mampu menolak dan mengangkat musibah dari kita, selain Allah -Azza wa Jalla-. Lihatlah peristiwa Lapindo di Sidoarjo, dan Gunung Merapi di Yogyakarta. Tak ada yang mampu mengatasinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk lemah, semisal Mbah Marijan!!! Perhatikan penyakit yang melanda manusia, tak akan hilang, kecuali Allah menghendakinya. Semua ini adalah fakta dan kenyataan yang menyadarkan kita bahwa tak ada yang menghilangkan musibah dan kesusahan, selain Allah!!
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Diberdayakan oleh Blogger.